Lomba Spanduk Berkarakter


MUKADDIMAH
Jika bermaksud untuk melakukan kebaikan lalu dilakukan, Allah mencatat baginya sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus lipat, bahkan berlipat-lipat. Namun, jika bermaksud untuk melakukan kejelekan, lalu tidak dikerjakan, Allah mencatatnya sebagai satu kebaikan penuh di sisi-Nya. Jika bermaksud untuk mengerjakan keburukan lalu dikerjakan, Allah mencatatnya sebagai satu keburukan.” Hadist.

TUJUAN         :
Memotivasi siswa untuk lebih peduli, lebih kreatif, dan lebih Inspiratif dalam berkarya sehingga kelak melekat sifat bertanggungjawab dalam balutan siswa yang berkarakter mulia.

TEMA LOMBA:
Menjadi Siswa Unggul dan Berprestasi dengan Sikap dan Perilaku yang Berkarakter Mulia

ATURAN LOMBA
  1. Media spanduk bersifat bebas, bisa dalam bentuk kain atau bisa juga dalam bentuk plastik.
v  Ukuran Spanduk     :  Panjang  4 – 5  meter & Lebar 1 – 1,5  meter
v  Jenis Huruf                : Bebas
v  Latar Spanduk          : Bebas
v  Besar Huruf               : Bebas
  1. Nama kelas wajib tercantum dalam spanduk.
  2. Boleh mencantumkan nama perkumpulan komunitas kelas.
  3. Wajib mencantumkan logo SMAN 1 Sinjai
  4. Bisa juga memasang logo perkumpulan komunitas kelas.
  5. Dibolehkan memasang foto rombongan kelas (bisa juga bersama wali kelasnya).
  6. Wajib mencantumkan kata-kata motivasi yang sifatnya memacu semangat belajar dan berkarya atau berbuat positif bagi kemaslahatan bersama di dunia dan di akherat.         (Bisa kutipan hadist, kutipan motivasi tokoh,  atau kata motivasi karya sendiri)
  7. Setelah mendapatkan kata-kata motivasi, maka wajib memperlihatkan kata motivasi itu dulu kepada tim teknis lomba Bapak Takdir Kahar, S.Pd. untuk mendapatkan pengesahan sebelum dicetak.
  8. Bila menggunakan latar kain, maka huruf spanduk bisa dari bahan kertas biasa, Ariston, atau gabus. (Bebas dan tergantung kreativitas)
 MANUAL KEGIATAN 
LOMBA SPANDUK BERKARAKTER  ANTAR KELAS  yang diselenggarakan oleh TIM PELAKSANA MOS 2012  kerjasama dengan EKSKUL JURNALISTIK  SMAN 1 Sinjai yang Insya Allah akan dilaksanakan:
Hari/Tanggal             :  Senin, 25 Juni –  Rabu, 18 Juli 2012.

Tempat                        : SMAN 1 Sinjai

PENGUMUMAN PEMENANG
Pemenang Lomba Spanduk Berkarakter Antar Kelas menyambut siswa baru dan pelaksanaan MOS 2012, akan di umumkan pada tanggal 18 Juli 2012, pada saat upacara penutupan MOS 2012 di lapangan upacara SMAN 1 Sinjai.

PENDAFTARAN
Daftarkan kelasmu dan ambil formulir pendaftaran di Pelaksana MOS 2012, Bpk Takdir Kahar, S.Pd.

***

Eksis dengan Karya Jurnalistik


Menerawang mimpi untuk lebih baik dalam karya junalistik.

Sambutan Pembina Jurnalistik, Bapak Takdir Kahar SPd.
Pelantikan Pengurus Jurnalistik oleh Bapak Drs Juanda
Ekstrakurikuler (Ekskul) Jurnalistik SMAN 1 Sinjai, yang terbentuk tahun 2006 lalu, kini telah  menorehkan karya-karya jurnalistik. Sebut saja, telah menerbitkan 50-an edisi Buletin Siswa dan menjuarai beberapa lomba majalah dinding tiga dimensi se kabupaten Sinjai. Bukan hanya itu, ekskul jurnalistik pernah juga menggelar lomba esai 'Go Green Sinjai'  antar pelajar SMA/SMK dan sederajat se kabupaten Sinjai.
Terkait semua itu, menjadi cambuk bagi pengurus baru Ekskul Jurnalistik periode 2012/2013 untuk lebih kreatif dan inspiratif dalam berkarya lebih hebat di jurnalistik siswa. Acara pelantikan dipusatkan di Aula SMAN 1 Sinjai, sabtu (26/5) lalu.
Kepala sekolah Drs. Juanda usai melantik pengurus ekskul jurnalistik dalam sambutannya menyebutkan bahwa salah satu ekskul yang bergelut di bidang jurnalistik dan tetap eksis serta terdepan di tingkat sekolahan di Sinjai hanya Ekskul Jurnalistik SMAN 1 Sinjai yang bisa melakukan kerja-kerja jurnalistik dengan baik. "dari beberapa sekolah yang pernah saya tempati mengajar dan saya pimpin sebagai kepala sekolah, hanya SMAN 1 Sinjai yang eksis ekskul jurnalistiknya dalam berkarya jurnalistik siswa," urainya.
Di acara tersebut juga di hadiri Wakasek Kurikulum Drs Muh Suardi, Wakasek sarana, Drs M Natsir dan wakasek kesiswaan M Arifin B SPd. Selain itu juga dihadiri beberapa guru pembina ekskul bersama dengan ketua-ketua ekskul serta pengurus OSIS dan MPK lingkup SMAN 1 Sinjai. Selamat buat pengurus baru Ekskul Jurnalistik. Semoga tetap berkarya lebih baik untuk majunya sekolah. Amin. (*/Penulis: Fauziah Jamaluddin & Nurul Hikmah Kadir & Abd. Djuljalali Walikram)

Runtuhnya Simbolisasi Budaya "ToRiolota"

(Fenomena yang tak Berujung)
 Kekerasan di mana-mana. Kata-kata kekerasan, bukan lagi menjadi tabu di tengah masyarakat atau dikalangan remaja, bahkan kini menjadi wacana yang tak berujung dan selalu menyelimuti nuansa-nuansa hidup masyarakat. Di setiap hari, jam, menit, dan bahkan detik selalu terjadi kekerasan. Dilematika tersebut selalu terjadi di sekitar kehidupan manusia, dan lebih jelasnya sering kita lihat di berbagai media, baik itu media elektronik maupun media cetak, dalam berbagai bentuk kejadian ataupun peristiwa. Entah kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan terhadap anak di bawah umur, ataukah kekerasan di kalangan remaja.
Tidak mengherankan jika fakta-fakta tersebut kadang dihubungkan dengan analogi tentang wajah Indonesia. Seperti inikah wajah-wajah Indonesia dengan balutan kekerasan dimana-mana ? Ataukah memang wajah Indonesia dibangun dari kekerasan?
Memiriskan dan memilukan. Mungkin kata itu yang dianggap paling sesuai untuk ditujukan bagi kejadian-kejadian yang menyelimuti  bangsa kita tercinta. Seolah nafas dan irama denyut nadi bangsa ini hanya dilakoni dengan perbuatan kekerasan. Parahnya lagi, kekerasan bukannya semakin berkurang atau teratasi, malahan semakin berkembang dan menjadi sebuah lakon yang lagi trend di tengah masyarakat.
    Seandainya saja tertanam sebuah pemikiran di masing-masing bilik pemikiran masyarakat dan juga kaum remaja, --jika kekerasan itu sama dengan sebuah kejadian yang kebetulan--, maka dapat dipastikan bentuk-bentuk kekerasan tidak menjadi-jadi.  Yah.... mungkin hanya terjadi sesekali dan akhirnya tidak akan terulang lagi. Apatahlagi jika masyarakat memiliki sebuah pemahaman budaya yang fasih tentang kehidupan yang harus dijunjung tinggi dan mulia, maka dengan sendirinya kekerasan nyaris tidak akan terjadi.
    Akan tetapi bagi beberapa orang, ada juga yang memiliki sebuah bentuk penilaian  dan bentuk peyakinan akan sebuah kepercayaan dengan anggapan bahwa di dunia yang fana ini, tidak ada yang di sebut kebetulan. Semua bentuk-bentuk kejadian diamini sebagai kejadian yang ada penyebabnya.
    Yah... tidak ada asap kalau tidak ada api. Anggapan tersebut layak diasumsikan dengan suatu kejadian yang terselimuti di kehidupan manusia. Bahkan, seorang teman saya pernah mengungkapkan  pemikirannya terkait dengan kepercayaan di atas. Ia berkata dengan entengnya bahwa, ”Sesungguhnya terhadap suatu kejadian sudah tentu didahului dengan kejadian yang sudah terjadi sebelumnya”.
Akibat asumsi di atas, pemikiran demi pemikiran mulai menyeruak dengan berbagai pertanyaan yang muncul dalam benak saya. Salah satunya adalah apakah kejadian-kejadian dalam bentuk-bentuk kekerasan memang ada sumbunya hingga susah dipadamkan?
Acapkali menjadi pemikiran yang tiada berujung membaluti irama akal sehat saya terhadap fenomena di atas. Lalu muncullah suatu memori yang mengarahkan alur pikiran saya pada suatu peristiwa kekerasan yang pernah terjadi di sekolah saya beberapa bulan yang lalu. Pernah suatu ketika, terjadi perkelahian massal antara siswa laki-laki dengan remaja pengangguran. Kala itu di siang bolong, ketika jam pulang sekolah tiba-tiba terjadi baku hantam di depan sekolah antara beberapa siswa laki-laki dengan remaja pengangguran yang tidak terhitung jumlahnya. Dalam tempo beberapa menit, perkelahian tersebut dapat teratasi dengan cepat setelah ditengahi aparat kepolisian, sehingga tidak terjadilah jatuh korban.
Usut punya usut, ternyata perkelahian tersebut bukan terjadi secara spontanitas. Akan tetapi, telah didahului pertengkaran kecil antara siswa dengan remaja pengangguran dan pada akhirnya melibatkan banyak orang. Berdasarkan kejadian itu,  maka terbentuklah suatu kesimpulan yang mampu menjawab akan keresahan-keresahan terhadap alur pikiran saya. Ternyata, suatu kejadian  kadang didahului dengan kejadian terdahulu hingga berembes kepada kejadian berikutnya dengan permasalahan yang sama. Perkelahian tersebut bukannya menjadi finis setelah aparat turun tangan, akan tetapi diwanti-wanti akan kembali muncul di kemudian hari dengan tajuk yang sama yakni pembalasan.
Meskipun sebenarnya kita tahu bahwa segala bentuk kekerasan remaja tidak muncul begitu saja. Ada faktor-faktor yang turut menunjang remaja untuk melakukan kekerasan tersebut. Seperti pada contoh yang dipaparkan di atas, pada awalnya suatu kekerasan muncul hanya karena suatu permasalahan yang sepele. Mengherankan memang, suatu permasalahan sepele ternyata bisa mengakar dan terus berlanjut ke permasalahan yang lebih besar. Dan jika kita melakukan penyelidikan lebih lanjut, dapat kita simpulkan bahwa suatu tindak kekerasan apalagi kekerasan yang dilakukan oleh remaja, ternyata disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor dari dalam diri remaja itu sendiri, dan faktor dari luar.
Saat menginjak usia remaja, jiwa seorang manusia akan menjadi labil. Pada masa ini, remaja sedang berada dalam tahap proses pencarian jati diri. Remaja jadi sangat mudah terpengaruh dengan apa yang dilihat, didengar, dan dirasakannya di sekitar lingkungannya. Jika lingkungannya baik, maka baik pulalah remaja itu. Dan sebaliknya, jika lingkungannya buruk maka buruk pulalah remaja itu. Seperti ungkapan yang mengatakan bahwa, ”Guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Ungkapan ini sungguh sangat mengena bagi remaja saat ini. Apapun yang dilakukan oleh seorang idola masyarakat, maka remaja akan menirunya. Bahkan remaja cenderung akan melakukan yang lebih dari yang dilakukan sang idola. Inilah salah satu faktor yang dapat mengganggu kejiwaan seorang remaja, yaitu adanya pengaruh dari luar yang berimbas munculnya pengaruh dari diri remaja itu sendiri. Sehingga dalam kehidupannya, seorang remaja akan melakukan tindakan yang semena-mena atau semau gue. Akibatnya, kekerasan menjadi ladang subur bagi remaja untuk mengekspresikan gaya hidup mereka.  
Sebagai sosok remaja di tengah masyarakat, harus ditanamkan pembudayaan kedewasaan menjalani hidup. Jangan mudah terhasut apalagi menjadi sok jagoan kambuhan. Setiap saat yang ada dipikirannya hanya berkelahi untuk mengalahkan lawan-lawannya dengan dalih mau menempoti posisi jago atau jagoan.
Sok, egois, jagoan, dan sejibun kata-kata fenomenal tersebut harus dibuang jauh-jauh dalam benak remaja. Jangan dijadikan pembenaran akan setiap tingkah-tingkah di tengah masyarakat. Remaja harus berani bersikap yang tegas dan lantang untuk mengatakan tidak pada kekerasan.
Intinya adalah remaja  harus berkiblat pada nilai-nilai budaya dalam runutan budaya leluhur Bugis-Makassar. Leluhur di masa lalu telah mengajarkan kepada generasi ke generasi tentang budaya Mali Siparappe, Rebba Sipatokkong, Malilu Siapakinga. Simbolisasi dari ungkapan leluhur tersebut sarat makna untuk kemaslahatan generasi, terutama  terhadap penghentian aksi-aksi kekerasan. Bahwa remaja diharuskan untuk saling menolong (Mali Siparappe), saling menopang (Rebba Sipatokkong), dan saling mengingatkan (Malilu Sipakainga).
Begitu indahnya hidup, tatkala perjalanan kehidupan remaja dibarenagi dengan panutan-panutan ungkapan budaya leluhur. Begitu terasa dan menyentuh relung-relung hidup yang sesungguhnya.
Akan tetapi, jika remaja sebagai ujung tombak dan pilar kemajuan bangsa dan negara tetap tercekoki dengan pemikiran fenomenal yang kekanak-kanakan, maka  sampai kapan pun romansa kehidupan remaja tidak pernah aman. Bahkan  sejarah kekerasan tidak pernah  padam dan berujung atau tidak lekang di makan zaman. (*) Penulis: Takdir Kahar, S.Pd. (Guru SMAN 1 Sinjai & Pembina Ekskul Jurnalistik)

Teater 277 Juara 1

  Lomba  Teater Hari Jadi Sinjai ke-448

Sanggar Teater SMAN 1 Sinjai meraih juara satu dalam lomba teater pertunjukan rakyat tingkat kabupaten Sinjai yang di gelar Jumat, 24/2 di lapangan Sinjai Bersatu. Tropi berupa piala bergilir dari Bupati Sinjai sebagai lambang 'keperkasaan'  perteateran di Kabupaten Sinjai, kini dalam pelukan SMAN 1 Sinjai.
Drs Juanda, Kepala SMAN 1 Sinjai, salut atas kerja keras pembina dan pelatih  teater SMANSA yang telah mempersembahkan kepada sekolah berupa piala bergulir Bupati Sinjai. "Alhamdulillah, sebuah kebanggaan bagi kami, ternyata anak-anak mampu membersembahkan talenta dan kemampuannya hingga meraih juara satu," paparnya.
Sementara itu, pembina Sanggar Teater SMAN 1 Sinjai, Takdir Kahar SPd dan Hj Hilda Ismail SPd  memberikan apresiasi dan bangga kepada siswa yang telah bermain semaksimal mungkin, plus juga kepada pelatih teater Jaya Kusuma SPd dan Asmar SPd. yang telah membimbing siswa  selama latihan.
Sekadar diketahui, lomba teater pertunjukan rakyat adalah agenda tahunan Dinas Infokom, Budaya dan Pariwista Sinjai, yang dilombakan di hari jadi Sinjai setiap tahunnya. Beberapa sekolah menengah atas yang punya kemampuan berteater seperti Sanggar Teater SMAN 1 Sinjai Timur, SMAN 1 Sinjai Barat jadi rival berat SMAN 1 Sinjai. Bukan hanya itu, beberapa sanggar kecamatan pun juga ikut lomba yang jelas-jelas skill dan talentanya 'di atas angin' yang diawaki orang-orang teater profesional.
Namun bukan tidak mungkin juara itu akan selalu bertengger di sanggar-sanggar ternama dengan pelatih ternama. Sebuah pembuktian jika Sanggar Teater SMAN 1 Sinjai, telah 'unjuk gigi' dan alhamdulillah mampu menjadi yang terbaik, terdepan, terhebat, dan tersohor di tahun 2011 sebagai sanggar teater yang layak 'direkeng' di Sinjai. INGAT... IA JUARA 1. JUARA SATU.
Adalah sebuah 'pencairan sejarah' yang telah lama membeku selama 10 tahun terakhir. Di tahun 2011 adalah awal dan geliat terdahsyat Sanggar Teater SMAN 1 Sinjai dan untuk selanjutnya akan berusaha maksimal untuk mempertahankan Tropi Juara I Bupati Sinjai.(*)  (Penulis: Magfirah Istiqamah Ilham, Ketua Ekskul Jurnalistik SMANSA)

Berguru Jurnalistik di Makassar


            Tuntutlah ilmu sampai ke negeri cina. Mungkin idiom tersebut yang menjadi inspirasi bagi anak-anak ekskul jurnalistik  SMA Negeri 1 Sinjai Utara untuk berguru ilmu, meski harus jauh sampai di Kota Makassar.
            Sebanyak 11 pengurus ekskul jurnalistik  mengikuti Diklat Jurnalistik Abu-Abu (DJAA) 2011  dari tanggal 12 hingga 15 Januari 2011 mendatang yang dipusatkan  di  Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Makassar. Diklat yang dilaksanakan Lembaga Penerbitan dan Penyiaran Mahasiswa (LPPM) Profesi Universitas Negeri Makassar (UNM) itu, di buka secara resmi Rektor UNM, Prof Dr Arismunandar MPd, Kamis (12/1). Dalam sambutannya Arismunandar berpesan kepada 70 jurnalis-jurnalis abu-abu dari 24 sekolah se Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat bahwa nantinya usai mengikuti diklat jurnalistik akan lahir jurnalis-jurnalis muda berbakat dan bisa menghasilkan karya-karya yang baik lewat tuliasn mereka. Tentunya tulisan yang dapat di baca dan dilihat orang dengan di muat di Majalah Dinding (Mading) atau bulletin sekolah dan kalau perlu di muat di web atau blog sekolah.
            Sekadar di ketahui, ekskul jurnalistik SMAN 1 Sinjai Utara selalu eksis di setiap kegiatan DJAA yang di gelar setiap tahunnya. Hal itu sejalan dengan prinsip perburuan ilmu untuk sebuah masa depan yang lebih baik. Tak ada kata terlambat untuk selalu berguru ilmu, kita harus memburunya danlebih baik.g (Mading) atau buletin   mendapatkannya. (Laporan: Fauziah Jamaluddin & Nurul Hikmah Kadir dari lokasi Diklat)  

'Dijual Garis Darah'

Deddy Mizwar, lahir di Jakarta, 5 Maret 1955. Ia pertama kali terjun ke dunia film pada 1976. Saat ini, bang Jack --sapaan akrab Deddy Mizwar-- masih  syuting FTV 'DIJUAL GARIS DARAH" di Kota Sinjai.
Deddy yang pada 1986 pernah terpilih sebagai aktor terbaik dengan meraih empat Piala Citra sekaligus dalam FFI 1986 dan 1987. Ia rela  memilih profesinya di bidang teater, dan melepaskan pekerjaannya sebagai pegawai negeri pada 1976.

Sampai kini, Deddy berkali-kali meraih penghargaan Piala Citra baik sebagai peran utama maupun peran pembantu.
Syuting FTV "Dijual Garis Darah" yang akan tayang di televisi akhir Desember 2011 ini, mengambil lokasi syuting di beberapa tempat di Kota Sinjai seperti Hotel Sahid Sinjai, Pelelangan Ikan Lappa, Rumah BaruE (di Jalan Persatuan Raya Sinjai) tepatnya di samping rumah peninggalan mantan rektor UNM Prof Dr Idris Arif MS.
FTV "Dijual Garis darah"  juga di bintangi bintang kawakan lainnya, seperti Rina Hasyim, Fahri Albar. Selain itu, juga dibintangi aktris dan aktor lokal Sinjai. Sementara pemeran pembantu, diisi diperankan beberapa anak-anak ekskul jurnalistik SMAN 1 Sinjai Utara. (Reporter: Dian Rezky Muliani, Magfirah Istiqamah Ilham, Ardillah Mahrik dan dari berbagai sumber)

Siswa SMANSA di FTV "Garis Darah"

Belasan siswa SMA Negeri 1 Sinjai Utara (SMANSA) turut ambil bagian sebagai pemain figuran  dalam pengambilan gambar FTV "Garis Darah"  di beberapa tempat  di Sinjai. Film televisi yang menceritakan budaya bugis ini, di mainkan pemain-pemain film kawakan papan atas Indonesia seperti Deddy Mizwar, Rina Hasyim, Fahri Albar dan Niken serta beberapa artis nasional lainnya.
Kendati siswa SMANSA hanya diberi peran sebagai figuran, namun siswa tersebut cukup senang. Apatahlagi pemeran utama FTV ini Deddy Mizwar yang sering di sapa Bang Jeck, cukup memberi motivasi bagi siswa untuk jadi orang sukses nantinya di masa depan.
"Saya bangga dan senang, meski hanya pemain figuran," papar Ardillah Mahrik dan Magfirah Istiqamah Ilham, siswa kelas XII IA 1 SMAN 1 Sinjai Utara, kepada tim Ekskul Jurnalistik SMANSA, di sela-sela syuting di Hotel Sahid Sinjai, Minggu, (27/11). Rencananya FTV "Garis Darah" produksi Citra Sinema akan tayang di SCTV pertengahan Desember 2011 nanti.

Guru, Jasamu Tiada Tara

Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku
Sebagai prasasti terima kasihku
Tuk pengabdianmu
Penggalan lagu tersebut jadi penanda tentang keagungan seorang guru. Ia begitu berjasa bagi pencerdasan anak negeri. Betapa tidak, dimulai dari titik nol untuk mengisi intelektual siswa di taman kanak-kanak dengan pengejaan huruf A sampai Z, hingga masuk SD, SMP, dan SMA yang kesemua jenjang sekolah tersebut dilakoni oleh masing-masing guru dengan penuh keihlasan dan kesabaran. Masihkah guru dihargai jasa-jasanya?
Seperti pemeo berikut, ’Belajar di waktu kecil bagai mengukir diatas batu, belajar sesudah dewasa laksana mengukir di atas air’.  Kalimat tersebut tentu mengisyaratkan kepada kita yang telah usai menempuh pendidikan di bangku sekolahan, bahwa sewaktu kecil dulu telah diajarkan kepada kita dari sosok guru tentang sebuah ilmu dari kita tidak tahu, akhirnya menjadi tahu dari makna ilmu yang diajarkan guru kita dulu. Sebuah pencapaian cita-cita yang tak lepas dari tangan-tangan dingin guru yang dengan ihlas mengajarkan ilmunya kepada muridnya.
Sekadar diketahui, dunia telah mengakui jika guru adalah pemecah masalah (Problem Solver) bagi kehidupan. Guru juga diamini sebagai penyejuk jiwa dari jiwa oleh jiwa dan untuk jiwa manusia. Siapa pun di dunia ini, —sepanjang pernah mengenyam pendidikan di sebuah lembaga pendidikan— tentu tidak melupakan sosok gurunya, ketika pernah diajar semasa sekolah dulu. Ironis memang, ketika seorang siswa sungguh melupakan gurunya. Apatahlagi keberadaan  guru diakui sebagai sosok yang pantas digugu, ditiru, serta dijadikan cahaya penerang dalam menimba ilmu pengetahuan.
            Sejumlah tokoh masyarakat yang peduli dengan dunia pendidikan memberikan lisensi bagi guru, bahwa tugas seorang guru sungguh sangat mulia dalam dimensi masyarakat yang multikultural dan multidimensional. Secara tegas, A Mappasere, mantan Asisten III yang sekarang menjabat sekretaris daerah Pemkab Sinjai, kepada tim journalist siswa SMAN 1 Sinjai Utara mengakui jika tugas seorang guru sangat berat karena perlu keahlian khusus untuk memindahkan ilmu kepada murid-muridnya. Bahkan jika perlu guru harus mendapat pehatian khusus dari pemerintah dengan jasa-jasanya yang sungguh mulia untuk menjadikan pelajar bisa sukses menjadi orang hebat, seperti petinggi negeri yang berhasil dan sukses dalam mencapai karir adalah berkat ajaran dan didikan guru.
”Seorang guru layak diberi penghargaan atas jasa dan baktinya dalam mendidik siswa.” urai A Mappasere.
Hal sama juga diamini Lukman Dahlan SIP MSi, Pegawai Pemkab Sinjai, menurutnya sangat pantas bagi sosok guru untuk selalu diagungkan. Guru adalah jembatan ilmu dari masa ke masa. Bahkan guru adalah sosok yang didalamnya terkandung makna yang luar biasa yang selalu mencurahkan ilmu serta hidupnya untuk anak didiknya. ”Saya sangat yakin jika guru jadi sumber ilmu dalam mencerdaskan anak bangsa dan kita wajib menghormati guru,” papar Lukman Dahlan.
            Sekadar penggambaran dari sosok guru, bahwa peranan teknologi yang semakin canggih dengan diciptakannya robot,  ternyata belum mampu menggantikan tugas-tugas guru sebagai tenaga pengajar dan pendidik di depan kelas. Realitas tersebut membuktikan jika pekerjaan guru, begitu agung, mulia, dan menjadi kiblat bagi pencerdasan dari generasi ke generasi. Meski diketahui, jika gaji guru nyaris tidak sebanding dengan pekerjaannya. Dalam kacamata ekonomi, --sebelum pemerintah menggulirkan sistem sertifikasi guru--  masyarakat memandang guru termasuk kelompok berpenghasilan rendah (low income earners). Kalaupun ada yang berada pada lapisan berpenghasilan menengah-bawah (lower-middle income earners) hanya sebagian kecil saja.
            Dengan demikian, guru wajib diberikan penghargaan sebagai sosok yang berjasa  bagi kehidupan yang sesungguhnya. Tidak mengherankan jika guru layak diberi penghargaan sebagai pahlawan yang cukup berjasa bagi pencerdasan anak bangsa. Guru mengajari kita dengan penuh kasih  yang layak digugu dan ditiru. Guru mengajarkan kepada muridnya dari tidak bisa menjadi bisa. Sejak pagi hari guru sudah datang untuk mengajar dimulai pukul 07.20 sampai dengan pukul 13.50 Wita. Perlu dipahami, sosok guru dalam mengajar dilakukan dengan penuh ketulusan hati tanpa mengharap imbalan. Paling berkesan tatkala guru selalu mendoakan muridnya agar lulus ujian nasional serta jadi orang sukses di masa depan. Terima kasih guru, jasamu tak akan punah diperadaban jaman dari waktu ke waktu. (Reporter: tim siswa-ekskuljurnalistik / Editing: Takdir Kahar, S.Pd.)

POLISI HIMBAU PELAJAR PEDULI ATURAN

     Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Sinjai Utara AKP Sunyoto, himbau siswa untuk mematahui tata tertib. Penegasan tersebut disampaikan di hadapan pelajar SMAN 1 Sinjai, saat menjadi Pembina upacara hari Senin pagi, (24/10/2011) di lapangan sekolah SMAN 1 Sinjai, kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan. Menurut Sunyoto, kecenderungan pelajar sekarang kurang peduli dengan aturan-aturan yang ada. Bahkan pelajar atau remaja sekarang sangat bangga dengan  pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan.
        Ditegaskan juga, jika sikap dan mental remaja yang buruk tidak diubah sejak sekarang  untuk ke arah yang lebih baik, maka pertanda  preseden buruk bagi remaja sekarang yang notabene sebagai pemuda harapan bangsa. "Remaja dan pelajar harus memiliki sikap kesatria,  disiplin dan bertanggungjawab," urainya.
         Pada kesempatan tersebut, AKP Sunyoto juga mengharapkan kepada pelajar khususnya di Sinjai untuk tidak menyentuh narkoba. Penyalahgunaan narkotika dan zat adiktif lainnya akan berdampak pada kesehatan dan masa depan pelajar itu sendiri yang akan berakibat buruk. "Mari menjadi pelajar yang cerdas dan disiplin serta dapat dicontoh oleh sekolah lain," pesan AKP Sunyoto di akhir  amanahnya. (*)

Arsip Blog

Blog Archive